Tampilkan postingan dengan label JEJAK HATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEJAK HATI. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Oktober 2014

MALAM PANJANG

“Bintang – bintang kian sirna ditelan malam, kesunyian berbalut dengan kehampaan, bertaburan harapan walau hanya angan sesaat bagai arus menderu tanpa diketahuarahnya. Dedaunan berjatuhan dan berguguran, ranting – ranting bagai dawai tak bersenar, deburan ombak menghantam karang.  Saat kau tak ada di sini diriku terpenjara di sudut sepi. Suda tak terhitung lagi waktu untuk melupakanmu namun tak perna bisa 
dan tak akan bisa melupakan dirimu”
*(Watowuan Tyno)*
"Malam Panjang"
Di antara banyaknya waktu yang tercipta dalam sebuah kehidupan mungkin waktu malam yang menjadi favorit sebagian orang. Waktu yang diciptakan untuk menikmati indahnya ciptaan Sang Kuasa dan waktu yang diciptakan bagi insan untuk memberikan hak – hak tubuhnya dari segala angkuhnya kehidupan dunia. Waktu malam merupakan sebuah moment yang paling tepat untuk membiarkan pikiran menerawang kehidupan fase demi fase sambil menikmati rahmat dan anugrah dari Sang Pencipta, kita bisa menjelajah dan mengingat jauh dalam memori kita. Namun ada juga yang menikmati dunia malam dengan cara yang berbeda, dengan dunia hiburan yang serba glamour, dengan dunia bola yang dipenuhi teriakan pendukung tim idola, atau mungkin dengan terdiam, berpikir, sambil menyusun dan merangkaikan kata menjadi sebuah kalimat yang menarik. Setiap orang punya cara sendiri menikmati malam, termasuk bersimpuh dan berkomunikasi dengan Sang Pembolak balik hati.
Bagiku malam ini adalah waktu yang tepat untuk menikmati kegelisahan. Dia tak pernah bising, sesekali lafalkan sepi yang menggerogoti masa dan selalu hadir di antara pekat serta memberikan hitam di atas gemerlap sudut dunia, dan aku akan terus menjaga malam agar tetap gelap. Sekarang tak akan ku biarkan malam berjalan cepat. Biar tak perlu tergesa-gesa menyudahi hari. Agar tak terburu-buru menanggalkan angka. Supaya tak usah bersusah payah menelurkan kenangan.  Biarkan kita sama-sama merasakan diam yang paling sunyi. Tanpa harus ada mulut yang menganga. Tanpa ada ucapan mematikan. Tanpa riuh ramai suara. Hanya kita, aku dan malam panjang. Dia begitu tahu, malam ini sebenarnya aku ingin berteriak, aku ingin memaki, aku ingin marah. Sungguh aku ingin sekali marah, aku benar-benar ingin memaki, teramat ingin bisa berteriak sejadi-jadinya. Tetapi itu semua hanya sekedar ingin. Keinginan yang akhirnya tak bisa aku lakukan. Karena dia selalu melenyapkan keinginan itu bersama hening. Hening yang paling senyap yakni diam. Dia lalu terdiam, menatapku dengan pandangan kosong. Selalu saja begitu. Setiap malam. Aku benci tatapannya. Sungguh membuatku tak jadi ingin berteriak.
Tak jadi ingin memaki, tak jadi ingin marah, hanya ingin diam bersamanya. Bersama heningnya, bersama sunyinya dan tangisnya yang tak pernah bersuara. Malam ini dia kembali bersembunyi bersama gelap. Mengendap dalam lelap, memaksaku mengejar bintang di atas cakrawala yang mendung dan hamparan pekat yang tak ada ujung, gelap dan  hitam. Kini aku yang terdiam membisu. Mendekap malam bersamanya, bersembunyi dibalik gelapnya, dan tangis itu kian pecah membingarkan malam. Sekarang, tak akan ku biarkan malam berjalan cepat.
Biar tak perlu tergesa-gesa menyudahi hari karena siang pun tak sanggup lagi memberikanku pelangi. Biarkan hitam warnai langitku, biarkan bintang yang terangi langitku.
            Gelap sudah bergelayut disini, hujan menyisakan genangan genangan air dalam kolam - kolam kecil di halaman kos. Tapi aku masih saja mematung menepis kesunyian. Mulai ku julurkan telunjuk mengukir sisa - sisa bayangmu di atas kertas lusuh.  Aku lupa saat mulai membuat sketsa wajahmu karena semburat senja tadi menghalangiku menatap dirimu lebih lama. Ternyata memoriku jauh lebih kuat dari itu, bukan wajahmu yang aku lupa tapi seberapa lama aku mengenalmu yang aku lupa, karena jam dinding pun tak mau bercerita tentang sejak kapan ku tawarkan kehangatan itu pada.  
            Dengarlah aku akan bercerita tentang sekeping hati yang kusisakan untukmu. Benar, kau benar.. Sekeping hati itu tidak akan ku satukan pada sekeping hati yang masih rancu bagimu. Karena ada seonggok hati utuh yang telah kau genggam lebih dahulu. Tapi kenapa kau ragu? aku tidak akan memintamu memungut kepingan hati itu untukku. Aku hanya meminta kau biarkan saja kepingan hatiku berkelana sesuka hatinya sampai waktu menghentikan langkahnya. Tahukah kau, buah kata yang akan ku lantunkan di setiap sembah sujudku kepada Sang Pembolak balik hati. Ya tentu, tentu ada namamu, ada doa ketentraman dan kesehatan untukmu. Andai kau tahu, saat ini aku tidak pernah punya angan jauh bersamamu, dapat melihatmu tersenyum saja sudah melepaskan gundahku. Aneh memang, jangankan kau. Aku saja bingung dengan perasaanku. Aku tak ingin memiliki mu hari ini, tapi aku ingin kau tetap ada disini menjadi senandung tidurku. Biarlah sayapku kembang dengan bayangmu. Sungguh indah, benar - benar indah rasa ini.  
Tuhan memberikan aku sebuah rasa keikhlasan yang lebih kuat dari rasa inginku. Tuhan pun mengulurkan tanganNya dengan murah hati untuk menampung rasa yang telah aku titipkan padaNya. Aku tak pernah takut, aku tak pernah sedih, karena aku bukan seekor kukang yang selalu malu - malu menampakkan meganya. Aku adalah seekor semut yang akan selalu mengangkat beban jauh lebih berat tanpa mengutuk-ngutuk adam dan Tuhannya karena Tuhan memberikan aku sebuah rasa dengan keikhlasan yang tiada terkira.
            Indah, sungguh, dan rasa itu yang menuntunku untuk menepis kesendirian itu. Supaya kau tahu, aku tak sebejat itu. Tidak, aku tidak akan membagi sekeping hati yang telah aku sisakan untukmu kepada para pengembara baru yang mencoba untuk singgah dan berlabuh disana. Karena aku akan membiarkan sekeping hati itu tertanam dan mengakar hidup dalam semak-semak rindu yang terkadang berbuah dan berbunga atau terkadang hanya akan menjadi makanan ulat-ulat kecil saja.
Sekarang aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk diriku. Karena aku bukanlah manusia yang sempurna rupa, tapi aku hanya seseorang hamba sederhana yang mencintaimu dengan bersembunyi di balik doanya. Bukan disini aku menunggumu, bukan hari ini ingin aku memilikimu tapi nanti. Suatu hari jika torehan tinta takdir Sang Pencipta tergores bersamamu di mahligai keindahannya.
            Terima kasih untuk setiap rintisan rindu yang tumbuh kian rindang dan rimbun. Aku membiarkannya menjadi penyejuk di pelataran jiwa. Aku beranikan untuk menegaskan bahwa tak akan aku ijinkan siapapun memetik daun rindu ini. Biarkan ia bermekaran bersama bunga-bunga kasih.
Bergelut dengan aroma bening wajahmu yang membayang selalu. Untuk semua rindu yang aku rangkul dalam berat yang membebani. Untuk semua sketsa indah di malam-malam mimpiku. Semua berarus pada sebentuk kata penuh warna - warni rasa. Engkau seperti ramuan yang memberi aku kekuatan kepada kebimbangan yang tak kunjung berhenti untuk terus difikirkan. Namamu kian terukir menjadi nyata. Kepada bisu yang tak pernah bersuara walau hanya mengatakanya kepada angin, kau  benar-benar begitu tangguh diam dalam lipatan seribu bahasa.
            Pada semburat cemas yang memikirkanmu dalam diam. karena tanganku tak akan menyentuh, suara pun tak akan aku beranikan berbisik mengisi ruang kecil dalam telingamu.
Karena selaksa rindu itu kutahan dan kutangguhkan, semua aku semayamkan aku memupuknya supaya beranak pinak, melahirkan rasa yang bersahaja, merangkum setiap kisah – kisah, mengabadikanmu dalam penjara traili hatiku.
Sekali lagi pada sepi di bawah temaram malam, taukah kau sebagai temanku dalam bisik - bisik nada menyebut namanya. Hanya antara aku dan kau temaram malam yang tahu  aku meniti pada titah langkah memperpantas diri.
            Hari-hari menjadi tumpukan waktu merangkai pecahan-pecahan mozaik terserak yang kian menjadi teka-teki terbaca. Karena namamu terbaca untuk sebuah makna. Makna dalam penantian penuh kesungguhan hingga tiba waktunya Sang Pemilik Cinta mengikat kita dengan tali harapan.

Jumat, 17 Oktober 2014

"SEPUCUK SURAT UNTUK IBU"


Sepucuk Surat Untuk Ibu
"Sepucuk Surat Untuk Ibu"
Apa kabar Ibu di sana? Untaian doa tak lelah kupersembahkan untuk Ibu. Harapku semoga Ibu selalu dalam lindungan Sang Khalik. Mungkin doaku tak sebanding dengan setiap deretan doa yang diukir untuk kesehatan dan ketegaran anak-anakmu di setiap helai nafas dan setiap detak jantungmu, doa yang mengiringi setiap langkahku, langkah kami dan langkah kita, doa yang menjadikanku seperti aku yang sekarang bukan dulu. Jarak membuat kita jauh namun aku merasakan kehadiranmu di setiap detak nadiku dan detik hidupku, karena Ibu selalu dekat di hatiku, dan aku bisa bertahan melewati hari demi hari di tanah asing ini. Tak ada kalimat panjang dan tak banyak ucapku untukmu, namun hanya maaf dan terima kasihku yang tak pernah cukup untuk Ibu.  Terlalu banyak luka yang aku torehkan di hati lembutmu. Aku yang keras kepala, aku yang pembangkang, tidak mau mendengar nasehatmu, bahkan mengabaikan perintahmu. Tak terhitung kata-kata kasar yang kuhujamkan padamu sampai bisa menjatuhkan air mata. Ibu, akankah kudapatkan surga? Bila surga itu berada tepat di bawah kakimu. Pantaskah aku, Ibu? Sementara terlalu banyak salah kubuat pada sosok malaikat tak berjuba pemilik kaki itu. Maafkan anakmu, Setelah semua yang Ibu lakukan untukku, sudah cukupkah balasan dariku? Tidak! Sampai akhir nafasku pun tidak akan pernah cukup aku membalasnya, meskipun aku tahu, tak pernah sedikitpun engkau mengharap balasan dari anak-anakmu. Maafkan aku yang belum sepenuhnya bisa membahagiakanmu, membahagiakan keluarga kita. Maafkan anakmu yang belum mampu mengabulkan permintaan Ibu. Hanya satu permintaan sederhana, selalu dekat dengan Ibu. Egoiskah aku, Ibu? Lebih memilih keinginanku sendiri, meninggalkan Ibu bersama ayah dan adik-adik, ke tanah asing ini demi cita dan asa. Semua ini hanya demi bisa menarik kembali kebahagiaan yang telah lama hilang dari keluarga kita. Terima kasih, Ibu, kaulah malaikatku. Malaikat yang rela meminjamkan rahimnya untuk kutinggali sebelum aku dapat merasakan pelukan dan cumbuan dunia. Malaikat yang mempertaruhkan nyawanya agar aku bisa melihat dunia, dunia yang semakin hari seakan pudar digerus arus globalisasi. Malaikat yang mencurahkan segenap cinta dan kasih sayangnya tanpa mengharap balas jasanya dalam merawatku, membesarkanku, mendidikku. Mengenang kembali yang telah berlalu, begitu lalu di ingatan, seperti angin tadi yang berhembus, membelai dan membiru mengelabu pada hati yang jadi rindu akan segala biru dan segala lakumu. Jika aku ingin mengenangmu, ingin merasakan kasih sayingmu, lalu jika aku ingin mendengar suaramu, ingin memelukmu, ibu seperti angin saja, bayangan yang indah setelah itu mengelabu di hatiku karena Ibu jauh.
Aku jadi menanti hari menghitung jari menari pada kanvas cintamu dalam permainan lagu irama tidurku yang selalu berdendang kala  itu, ketika kemanjaan jadi untukku saja, ketika kehangatan hanya untukku saja, ketika juga saat bisikan lembut menembus dinding pendengaran “ukir masa depan yang cemerlang di hari esokmu di atas awan, di atas derita masa lalu daan di atas perjuangan kita” begitu katamu. Rangkaian kata ini, kutuliskan betapa besar pengorbanan demi anak-anakmu, demi keluarga kita. Kini aku bisa memahami, betapa berartinya ibu dalam hidupku.
Terima kasih untuk setiap doamu. Tanpa doa-doa panjangmu, aku tidak mungkin bertahan di tempatku sekarang. Semua ini karena ada Ibu di setiap langkahku. Ribuan kata terima kasih tak kan cukup menggantikan semua yang telah Ibu lakukan. Aku sayang Ibu, dulu, sekarang, nanti dan selamanya.

Kamis, 02 Oktober 2014

BERUSAHA UNTUK TETAP TEGAR


Langit sore ini tampak begitu gelap. Matahari harus berjuang untuk memancarkan sinarnya meski awan tebal menyelimuti bumi hari ini.  Mungkin aku harus berjuang seperti matahari. Berusaha untuk terus bersinar meski begitu banyak awan tebal di hadapanku. "kita harus berjuang dahulu, untuk bisa menikmati bahagia. Agar dunia lebih indah". Ya.agar dunia lebih indah. Tetapi aku sudah sangat lelah. Kuliah 4 tahun rasanya begitu berat. Terlalu banyak tugas dan kewajiban yang menuntut untuk segera diselesaikan. Menyerah...mungkin adalah suatu pilihan. Tapi, akan sangat pengecut buatku. Takkan lagi aku mampu untuk meneggakkan leher dan menantang tatapan-tatapan dunia yang tajam. Aku butuh sedikit ruang untuk diriku sendiri. Duduk dan menikamati hangatnya matahari di depan kos. Atau betul-betul merasakan sejuknya pagi yang tak selalu mampu aku sapa dengan senyum. Aku lelah dan butuh sebuah tempat untuk bersandar. Sebuah sudut hati yang mampu menenangkan tiap jiwa yang bergejolak. Aku punya sudut hati itu. Tapi ia tak di sini. Dan aku tak ingin memanggilnya untuk berada di sampingku. Biarkan ia tetap ada di sana. Aku tak ingin membebaninya dengan begitu banyak rintangan yang selalu meliliti kakiku. Ia sudah terlalu banyak merasa sedih. Ia pernah bilang "apa tujuanku pulang ke sini. Semua begitu membenci. Tak ada lagi yang betul-betul menjadi kawan. Semua hanya mampu menanyakan, menyakiti, dan tak memberi jalan keluar." aku masih ingat saat ia mengatakannya. Aku merasa begitu bersalah. Memintanya untuk menemani tiap manjaku tanpa pernah berusaha memahaminya. Aku tak ingin membebaninya lagi dengan begitu banyak tingkahku yang menyebalkan "aku takkan mintamu hadir menemaniku di sudut kekewatiran akan masa depan". Dan aku di sini dengan bertumpuk polemik dan berusaha mengeluarkan diri dari lilitan penghalang kaki tuk melangka mencari jawaban yang selama ini menjadi asaku yakni selembar kertas penuh makna alias ijasa. Berusaha untuk tetap bertahan dan melangkah meski dengan kaki terseret, tubuh lelah, dan hati yang berusaha tegar. Semoga Tuhan Raja Semesta menunjukan jalan yang terbaik buat hambanya.

Minggu, 24 Agustus 2014

"MAKASSAR PUNYA CERITA"


Terkejut, kaget, prihatin, miris, heran, dan takjub, itulah yang aku rasakan ketika pertama kali menginjakan kaki di kota yang dijuluki Kota Angin Mamiri (Makassar). Kota yang menurut orang desa adalah sumber penghidupan untuk merubah nasibnya.
            Di kota inilah ribuan kaum urban berdatangan tiap tahunnya mencoba mencari rezeki dan menatap masa depannya. Walaupun ternyata kemudian ada yang menjadi pemenang ataupun pecundang.
            Kota yang juga menurut generasi muda terutama anak remaja adalah barometer mode dan icon gaul anak muda Indonesia, lebih tepatnya kota ini adalah trendsetter pergaulan anak muda Indonesia.
Anda akan terkesan tidak gaul atau kolot apabila nilai-nilai Makassar tak melekat dalam pergaulan sehari-hari, yang dalam bahasa mas Tukul Arwana (empat mata) disebut NDESO atau KATROK.
Makassar, kota yang menurut pandangan pribadiku adalah kota terunik. Keunikannya bukan pada tata ruang kota atau struktur kotanya, namun pada kehidupan masyarakatnya yang seakan tanpa sadar terbagi dalam sekat-sekat kelas sosial dan primodialsme bagaikan bumi dan langit.
Aku kaget ketika melihat emperan toko-toko dipenuhi anak-anak jalanan yang tengah tertidur pulas, rumah-rumah mungil dari gardus atau sisa-sisa bahan bangunan dan sepanjang jembatan layanyang mengulurkan tangannya meminta-minta rezeki.
Luar biasa kota ini, pemandangan yang cukup menakjubkan buat aku. Bagaimana tidak, ditempat aku pemandangan ini tak pernah terlihat, kalaupun ada, mungkin hanya segelintir orang yang benar-benar tak memiliki sanak saudara. Tidak  salah juga ada pepatah yang bilang “sekejam-kejamnya ibu tiri tak sekejam kota makassar”. Aku mendengar dari penuturan beberapa teman yang sudah mendahuluiku, banyak orang yang akhirnya beralih profesi menjadi pembunuh, pencopet, ataupun preman karena sulitnya mencari rupiah, katanya semua itu dilakukan hanya demi menyambung hidup dan sesuap nasi.
Temank benar, karena saya sendiri sudah merasakan efek dari pepatah diatas, belum lama berada di kota ini saya dipajak oleh para preman ketika aku tengah berbelanja di pasar sentral, memegang teguh pepatah diatas.  
Maklumlah, aku pendatang baru yang belum berpengalaman. Banyak hal tentunya yang bisa kita lukiskan dari kota ini, tak akan habis-habisnya.
Makassar tak pernah mati, dia selalu terjaga sepanjang siang dan malam. Aktifitas yang tak pernah berhenti sepanjang hari, di sini manusianya seperti robot, bekerja dari pagi dan baru pulang sore harinya. Ada juga yang malah baru bekerja ketika senja mulai merona dan kembali ke peraduan dan baru pulang ketika bola api kemerah merahan kembali bertengger di atas cakrawala ujung timur. Luar biasa, etos kerja yang tak ditemui ditempat lain. Di sini uang adalah Raja.
Aku tak mau bicara panjang lebar tentang kota ini, namun ada beberapa hal yang benar-benar diajarkan kota ini kepadaku. Makassarlah yang membuat aku benar-benar mandiri dan dewasa menatap kerasnya kehidupan, Makassarlah yang mengajari aku arti keikhlasan membantu sesama, Makassarlah yang menuntun aku menyelami dalamnya makna kesabaran, Makassarlah yang membuat aku memahami esensi kehidupan, Makassarlah yang membuat aku mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Makassarlah yang telah membuat aku untuk pertama kalinya menitikan air mata.
Terakhir, sebelum menutup tulisan ini. Untuk Bapak Sahrul Yasin Limpo Gubernur Sulsel yang terhormat, Wargamu sekarang bertambah pak dengan kehadiranku, maaf yah pak, suda empat tahun aku berada di kota ini  namun belum melapor ke RT dan RW setempat. Kira-kira illegal ndag  pak orang-orang seperti ini? Karena kedatanganku sama seperti orang-orang yang lain, mencari seberkas harapan dan seribu kepastian, ingin mencuri kekayan Makassar berupa ilmu dan juga ingin menaklukan Makassar dengan segala konsekwensinya. 

SATU NAMA SATU CERITA

          Malam semakin larut, kesunyian berbalut dengan kehampaan menemaniku di sudut sepi. Detak jarum jam seakan terdengar begitu keras pada malam menjelang larut. Tak ada bulan dan bintang bintang di langit, hanya seekor laba-laba tua dengan sarangnya yang tampak begitu tebal. “Kenapa kau terus memaksakan kelopak matamu untuk bertahan menantikan bintang yang tak kunjung datang? Bukan hal menarik yang mungkin bisa membuatmu terjaga hingga pagi”. Aku seperti merasa mendengar semua ocehan dan cemoohan mereka, lalu aku seakan berargumen dengan mereka, “apa pedulimu jam dinding? mengapa kau tidak diam saja dan melakukan tugasmu untuk menjalankan jarum waktu agar tetap berputar, dan kau laba-laba tua, kenapa kau terus memandangiku dengan matamu yang banyak itu, kenapa kau tidak mengurus urusanmu sendiri, atau mungkin kau lebih baik mengganti sarangmu yang sudah tampak lusuh?”. Lalu dengan lantang sepertinya laba-laba itu berkata padaku “memangnya kau itu siapa untuk aku perhatikan, jangan salahkan mataku yang lebih dari satu, bukan berarti aku selalu memperhatikanmu, aku punya banyak hal untuk aku lakukan dari sekedar memperhatikan mu, atau lebih baik dari sekedar memikirkan seorang wanita di luar sana yang mungkin tidak sedang memikirkanmu, atau bahkan sedang tertawa senang entah dengan siapa”.
Sindirannya begitu tajam menusukku dan cemoohannya begitu membodohkanku. Lalu dengan nada yang tak mau kalah, aku kembali bersuara pada mereka, “memangnya kalian yang hanya binatang dan benda mati tahu apa tentang hati, tahu apa tentang cinta?”. Ini bukan hal yang mudah”. “Jika kau sadar kalau ini bukan hal yang mudah, kenapa tidak menjadi egois saja dan biarkan cinta itu berakhir di tengah jalan, atau kebingungan di persimpangan”.
“Kalian memang tidak akan pernah tahu, jika saja cinta itu mudah, mungkin romeo juga tak harus mati karena meminum racun”.
Aku seperti merasa apa yang terasa, ketika rasa yang telah lama dikecap kini seakan memudar, seperti hambar.
“Sudahlah! Buat apa kamu merasakan yang sudah pudar dan hambar. Kamu tidak perlu menanti yang belum pasti, mari ikut denganku, kita nikmati malam ini”
“Lalu apa sebenarnya yang ada?, ketika yang dinanti belumlah pasti, yang terasa hanya asa yang tak ter-asah, ternyata mimpi yang tak pernah mampir dan bayang yang tak lagi datang.
Lalu apa yang sebenarnya ada?, yang tersisa hanya kiasan pada kertas-kertas lusuh tak bertuan, yang bercerita pada bayang dan mimpi yang sedang menanti hal yang belum pasti”.
Gelas yang ada di sampingku juga tak mampu menjawab tanyaku. Kemudian ku hembuskan nafas bersamaan dengan asap yang keluar melalui mulut dan hidungku.
“Ada apa denganmu?” Suara yang kembali membuatku berpikir kalau aku mungkin sudah gila. “Aku disini, di atasmu” Ternyata asap yang ku hembuskan tadi berkumpul dan mengepul membentuk subuah tanda tanya. Dengan mengabaikan semua pemikiran tentang aku yang mungkin sudah mulai gila, aku seakan bercerita padanya. “Cinta, kemana dia bawa pergi hatiku?, aku hanya berharap dia tidak terlalu jauh, yang akhirnya membuatnya jenuh, dan kemudian meninggalkan hatiku sendiri, tak tersentuh”.
“Memangnya cintamu ada dimana?
“Aku juga tidak tahu. Aku hanya tahu tentang perbedaan yang akhirnya membuat kami jauh”
“Banyak rasa yang sebenarnya sama jika saja kalian manusia mau sedikit merasa. Dengan tidak hanya melihat warna kulit dan harum buahnya. Sama seperti perbedaan yang kalian miliki, yang jika terlihat, sungguh begitu beragam. Tapi jika saja kalian mau merasa, ternyata banyak rasa yang sama, bahkan ketika kalian sedang menelan perbedaan”
“Itu dia yang membuat aku tidak mengerti. Aku seperti dihadapkan pada sebuah rangkaian puzzle raksasa bermotif hati yang telah tersusun dan kemudian dibongkar, mungkin sudah puluhan kali dilakukan, hingga pada satu saat yang mungkin kesekian ratus kalinya, aku merasa sepertinya ada bagian yang bukan pada tempatnya, atau bisa jadi hilang. Meski tak lelah terus mencari dan mencoba menempatkannya kembali, tapi tetap saja kelihatannya lain, tak seperti yang biasa dilakukan hingga ratusan kali. “Mungkin memang harus seperti itu kawan. Mungkin memang harus ditinggalkan dan biarkan menjadi rangkaian susunan yang tak berujung”.
“Tapi kenapa harus seperti ini?, apa yang salah?, siapa yang harus disalahkan?”
“Tak ada yang salah dan harus disalahkan. Ini sama seperti bunga yang ingin mekar, mengizinkan kumbang dan angin menghisap dan menebar putiknya, untuk menjadi sempurna pada waktunya. Lalu siapa yang nantinya harus disalahkan jika bunga gugur sebelum berkembang?. Apa kumbang yang berlebihan menghisap sarinya?, atau angin yang terlalu jauh menebarnya? coba jawab tanya itu”.
Otakku seperti memberi perintah pada mulutku untuk menjawab tanya itu, tapi sepertinya aku tak mampu.
          Apa benar yang dikatakan jam dinding tadi kepadaku, kenapa aku tidak menjadi egois saja, menjadi angkuh dalam ringkihnya cinta yang sepertinya masih haus akan pelukan dan sanjungan. Apakah aku harus melangkah sombong di antara pengemis-pengemis hati yang lapar akan kasih, sementara aku sedang membohongi diri sendiri bahwa aku masih mencari cinta yang ingin memberi. Ketika aku begitu senang membicarakan tentang egoku, tiba-tiba aku dibentak, sangat menghentak karena ego yang coba memanipulasi naluriku, untuk menjadikan ini sebagai kemenanganku sendiri. Dengan keterpaksaan kebahagiaan yang dengan segala cara coba untuk dipalsukan agar semua terlihat seakan abadi. Ternyata bentakan itu adalah suaraku sendiri, tapi tidak dari mulutku.
          “Hey, ada apa denganmu yang merupakan wujud nyata dari aku? kenapa kau biarkan ego meracuniku, aku hampir sekarat dalam tubuhmu karena ego yang kau biarkan menyerangku. Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan ketimbang memilih apa yang ada. Lebih baik menunggu orang yang tepat, karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius. Perlu kau ketahui bahwa bunga tidak mekar dalam waktu semalam, kota Roma tidak dibangun dalam sehari, kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan, cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan ini. walaupun menunggu membutuhkan banyak hal. Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan”.  
            Aku terdiam dan kembali merenung, berharap pada waktu, memohon untuk tidak segera berlalu, dan memutar kembali yang lalu, di saat yang sama aku berkata janji pada bunga untuk tidak membiarkannya gugur sebelum berkembang, dan melarang angin untuk bertiup terlalu kencang agar tak membuat sarinya terbang menghilang, dan sempurna saat berkembang.

"IBUKU INSPIRASIKU"

“Tak perlu menjadi sempurna, hanya untuk sekedar mengejar mimpi dan asa,
jadilah yang terbaik, lalu kejar angan tanpa harus menoleh ke belakang”
*(Watowuan Tyno)*


Ketika kelopak mata terbuka awalnya aku menangis, manusia di ujung mata mulai tersenyum tipis, manusia pertama yang aku lihat kata mereka aku boleh memanggilnya ibu, ia menimang dengan irama senandung malam, begitu seterusnya hingga aku tenggelam dalam hitam, hidup dalam tidurku sepasang mata terus memperhatikan raga mungil, malam itu aku menangis, tangisan yang memecah sunyi di belantara sepi, ia terbangun dengan setengah mata terbuka lalu ia menimang dengan irama senandung malam begitu malam seterusnya.
            Surga di bawah telapak kaki ibu, begitulah yang kita percayai selama ini, sosok perempuan yang tangguh, sangat menginspirasi hidupku. Sosok yang tegar terkadang cerewet tapi itulah ibu orang yang kritis, dan sangat-sangat sayang terhadap kami lima bersaudara.
Bercerita tentang siapakah ibuku, ada yang unik dan menurutku sangat heroik, mengajarkan kami tentang bagaimana mempertahankan hidup dalam kehidupan yang pelik dan menyakitkan. Ibuku terlahir juga dari seorang ibu yang menurutku bukanlah sosok orang biasa, yang selalu mengiringi tidur kami dengan dongeng klasik di waktu silam.
Bakat untuk jualan ibuku sudah ditunjukkannya sejak berumur belia, tapisan beras yang dicampur dengan jagung yang dititihnya menjadi santapan siang setelah pulang sekolah di masa itu. Ibuku saat itu hanya bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, karena kelurganya saat itu hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Sejak ibu menikah banyak hal yang berubah karena ayahku saat itu adalah seorang pekerja keras. Selama ayahku masi sehat, keluarga kami sangat rukun dan hidup berkecukupan.
            Suatu peristiwa yang telah melanda keluargaku pada saat aku masi duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga.  
Hal yang tidak bisa terlupakan dalam perjalanan sejarah hidupku. Ayahku mengalami gangguan jasmani atau jatuh sakit membuat kebahagian dan tawa ria dalam keluargaku hilang, lenyap dan sirna seketika sampai saat ini. Ayahku tak lagi bekerja, dia hanya bisa duduk termangu memikirkan nasip keluarganya.
Bertolak dari peristiwa itu semua keperluan dan kebutuhan keluarga menjadi tanggung jawab ibu layaknya berperan sebagai kepala keluarga.
Walaupun dengan beban yang berat, ibuku tak pantang menyerah, walau sering kali menangis dalam gelap, berkeluh kesah dalam senyap, menanggung peluh dan penat seorang diri.
Berbagai usaha dia lakukan guna menghidupi keluarganya. Berbagai banyak rintangan selalu menyelimuti keluarga kami seakan menjadi sahabat sejati.
Berbagai macam problematika terus menggerogoti keluargaku, namun ibuku tak perna menyerah sedikitpun dengan keadaan, karna baginya hidup adalah sebuah pengorbanan maka inilah pengrbanannya untuk hidup demi anak – anaknya.
Mungkin telah habis dan kering keringat dan air matanya, hingga kulit yang dulu indah kini bagaikan gumpalan benang kusut, wajah yang dulu mulus kini dipenuhi goresan-goresan halus bagaikan lukisan seorang sastrawan, yang tak ternilai harganya. Bagiku Ibuku tak seperti ibu yang lain.
Tanpa disadari aku dan kakakku sebenar lagi menyelesaikan perkulihan di kota Makassar. Inilah bukti bahwa ibuku tidak seperti ibu yang lain. Bagiku tidak semua ibu yang hidup dalam keterbatasan rela membiayai kedua anaknya sampai pada perguruan tinggi, inilah hal yang luar biasa bagiku.
Sampai detik ini belum sedikitpun wujut terimakasi yang diberikan kepadanya. Mungkin sampai kapanpun semuanya tak mampu dibalas dengan sesuatu.
Ibu bagaikan malaikat tak berjubah, mendidik kami dengan kasih yang tulus bagaikan bulu domba dan suci bagaikan merpati.
Masih terlintas dalam ingatanku akan pesannya sebelum pergi berpetualang mencari seberkas harapan dan selembar kertas penuh makna di kota ini “Tak perlu menjadi sempurna, hanya untuk sekedar mengejar mimpi dan asa, jadilah yang terbaik, lalu kejar angan tanpa harus menoleh ke belakang”. Setiap derap langkaku entah kemanapun selalu ada hadirnya dalam ingatanku. Ibu adalah inspirasiku. 

SMSKU UNTUK TUHAN


Ada beban yang sering memberatkan punggungku ketika malam merayap naik menuju larut. Tepatnya dikamar sederhana ini, di salah satu sudutnya aku sering kali mengalienasikan diriku sementara dari virus-virus perusak moral diluar sana. Aku sengaja memilih menyendiri dan membiarkan imajinasiku menggeliat menembus batas dimensi ruang. Aku hanya ingin menyapa Tuhan di penghujung malam lewat SMS-SMS cinta yang sering kali kukirimkan untukNya sebagaimana kebiasaanku ketika beban demi beban semakin berat untuk ku pikul. Aku sadar, aku suda cukup lama tertidur pulas dan sibuk dengan mimpi-mimpi tak bermutu yang ku ciptakan sendiri lewat imajinasi dan hayalan-hayalan yang terlampau jauh mengitari alam pengembara. Setumpuk mimpi yang akhirnya menjebakku dalam lingkaran setan dan kebodohan, hingga aku tak mampu membedakan baik dan buruk ataupun salah dan benar. Aku seperti terlena dengan realita sosial yang ada di sekitarku. Ya, aku terlalu malas untuk bangun dari tidur panjang ini, bahkan kubiarkan arus dan gelombang realitas di sampingku mengalir deras tanpa sanggup aku hindari. Aku kalah, sementara yang lain melaju tanpa bisa dibendung, aku hanya diam ditempat ini, sibuk dengan kehidupan yang tak begitu bermutu, bahkan tak beranjak sedikitpun dari titik nol, titik kebodohan yang membelenggu kinerja otakku untuk berdinamika.
            Sejujurnya, Aku pernah mencoba bangkit. Bahkan aku sudah beberapa kali mengirim SMS untuk Tuhan agar mengeluarkanku dari penjara kebodohan ini. Tapi yah begitulah, Tuhan itu Maha Ghaib, Aku sulit menembus eksistensiNya, aku hanya bisa berprasangka kepadaNya, mungkin Dia sedang menunggu reaksiku dengan SMS yang tak kunjung dibalas itu atau mungkin saja Dia mau mengujiku seberapa besarkah kesabaranku ditengah penantian yang tak pasti ini, atau barangkali saja SMS-SMS ku tak sampai padaNya, salah nomorkah? Ah, tak mungkin, bukankah DIA dekat dengan hambaNya, bahkan lebih dekat dari urat nadi hambaNya. Suatu malam, setelah sekian lama menunggu SMS balasan dari Tuhan. Aku mencoba mengirim satu SMS lagi kepadaNya, satu SMS yang isinya tak jauh berbeda dengan SMS-SMS sebelumnya. Akupun selalu merayuNya setiap kali mengirim SMS itu dengan mimik muka yang pasrah dan dengan kata-kata yang cukup mengharukan, bahkan sesekali meneteskan air mata. Aku hanya berharap saat kuterbangun esok pagi nanti sudah tertulis di layar HP “one new messages from God”. Namu  SMS itu tak kunjung di balas. Ah sudahlah, mungkin belum saatnya SMS ku direply oleh Tuhan. Biarkan saja, aku akan terus menunggu, karena aku yakin suatu saat nanti, entah itu kapan, Tuhan pasti dengan senang hati membalas ku yang tak terhitung jumlahnya itu dan mengejutkanku di pagi hari "one new messages from God". Semoga saja.

"JERIT-JERIT EGOKU"

“Tak ada kata lusa untuk hari kemarin dan tak ada kata panjang untuk hari esok.  
Jika hari esok sudah tidak bisa merubah apa yang berlaku hari ini, tetapi hari ini
masih bisa merubah apa yang akan terjadi pada hari esok”
*(Watowuan Tyno)*


Aku dan hidupku tak saja mengurung diri dalam kelamnya ruang sempit berdinding seng, aku selalu berdialog dengan dunia luar lewat alam imajinasi. Aku mencari dan memberi makna bagi perjalanan hidupku di dunia. Aku belajar gelisah, aku belajar cemas, dan akupun belajar tentang kebahagiaan. Aku bereksistensi dalam diriku dan dunia luar, aku selalu terlibat dengan kedua-duanya, karena aku adalah mahkluk yang sadar akan eksistensinya. Aku adalah subjek yang mengada, aku bergulat dengan kelemahan jiwaku dan kerasnya dunia di luar diriku. Aku merengkuh makna dari dalam dunia. Mengapa? karena dunia buat aku adalah domain makna, bahkan dia adalah medan makna itu sendiri. Tapi sesungguhnya aku tak bisa mengkonstruksi makna itu, aku hanya bisa mepresepsi makna dan menghadirkannya dalam tutur kata. Aku selalu ingin mengungkapkan dan mengkomunakasikannya pada setiap masa.
Aku melihat dunia sebagai totalitas referensial, aku belajar darinya dan berhasil menyingkap tabir penghalang eksistensi. Aku melihat, aku merasa, dan aku mendengar jerit - jerit egoku terlempar di tengah kumpulan benda dan mahkluk lainnya di sekitar diriku.
Akhirnya aku tahu bahwa hidup adalah sebuah perjuangan untuk menemukan keberadaanku. Aku jadi tahu dan memahami bahwa primodialisme manusia adalah sebuah kemungkinan yang harus aku hadapi dengan realita hidup. Aku memproyeksikan ego dan menerawang nasibku kelak, dimana aku harus membuka diri dan membebaskannya menantang semua kemungkinan yang ada pada dunia. Aku gigih saat menyingkap selubung dunia lewat hatiku yang terbuka untuk dunia di luarku dan lewat perasaanku yang paling primodial dan keterlemparanku di tengah dinamika evolusi kosmos. Aku memang liar, dan benar-benar liar memahami eksistensiku. itulah jerit-jerit egoku yang membuncah dalam dadaku selama ini. Aku ingin menjadi seorang manusia sejati.